INILAH.COM, Jakarta - Yusril Ihza Mahendra pada pemilihan Presiden di sidang MPR 20 Oktober 1999 secara dramatis mengundurkan diri sebagai capres. Tersisa dua kandidat, Megawati Soekarno Putri dan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Banyak analisa, mundurnya Yusril adalah skenario Poros Tengah yang digagas Amien Rais untuk menghadang Megawati.
Banyak analisa, mundurnya Yusril adalah skenario Poros Tengah yang digagas Amien Rais untuk menghadang Megawati.
Ternyata, ada kisah berbeda, seperti diceritakan Yusril dalam diskusi Inilah Demokrasi dengan tema, 'PBB Dan Masa Depan Politik Neo-Masyumi' di Kantor INILAH.COM, Jl Rimba Buntu, Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (24/11/2013).
Yusril membongkar kisah di balik pengunduran dirinya. Berbeda dari pemahaman kebanyakan orang.
Yusril menegaskan, Partai Bulan Bintang (PBB) yang saat 1999 dia adalah Ketua Umum DPP, tidak tergabung dalam Poros Tengah. Yusril dan PBB tidak sepakat hingga akhir Poros Tengah itu. Bahkan, sampai wacana itu muncul lagi, Yusril dan PBB yang dipimpin MS Ka'ban, tidak tertarik dengan isu Poros Tengah jilid II.
Pada 7 Oktober 1999, Amien Rais sudah mengumumkan Poros Tengah mendukung Gus Dur. Hingga pada pidato pertanggungjawaban Presiden BJ Habibie 19 Oktober 1999, MPR menolaknya.
Pada 20 Oktober 1999, dilakukan pemilihan Presiden melalui sidang MPR. Saat itu belum pemilu langsung.
Beberapa kejadian pada dini hari 20 Oktober 1999, diceritakan oleh Yusril. Berkumpul di kediaman BJ Habibie sekitar pukul 00.30 Wib. Habibie berdebat hebat dengan Marwah Daud. Marwah tetap meminta Habibie jadi Presiden. Habibie dengan tegas tidak mau apalagi pertanggungjawabannya ditolak.
Tokoh lainnya seperti Ketua Umum DPP Golkar Akbar Tanjung tidak bersedia. Ginanjar Kartasasmita juga sama. Hamzah Haz mengaku tidak enak dengan Gus Dur. Praktis, hanya Yusril yang bersedia dan sudah melengkapi persyaratan capres seperti tertara dalam TAP MPR.
"Ketika pak Habibie ditolak pertanggungjawabannya, saya sudah siap berkas-berkasnya pencalonan Presiden. Saya lengkapi komplit semuanya. Peta politik tiba-tiba berubah drastis malam itu," kenang Yusril.
Dalam pertemuan itu, Amien Rais dipanggil. Amien baru datang jam 04.00 Wib, masih pada 20 Oktober 1999 subuh. Amien tidak bersedia menjadi Presiden karena sudah mengusung Gus Dur. Tapi dia meminta waktu bertemu Gus Dur.
Pagi harinya sekitar pukul 06.00 Wib, dari kediaman Habibie, Yusril memilih untuk ke MPR, menyerahkan berkas pencalonan. Habibie juga sudah yakin Yusril yang maju.
Dengan memeluk Yusril, Habibie menyatakan siap mendukung Yusril dan mengarahkan kekuatannya di Golkar dan Fraksi TNI serta utusan daerah, mendukung Yusril.
"Waktu itu dia (BJ Habibie) bilang kalau kau maju saya akan perintahkan TNI, perintahkan Golkar, alihkan dukungan pada saya. Tapi saudara akan mengalami problema. Saudara harus terima Wiranto sebagai wakil anda (Wapres). Itu omongannya Habibie,".
Yusril meluncur ke gedung MPR/DPR/DPD di senayan. Pukul 06.30 Wib, Yusril telah menyerahkan berkas. Dia yang pertama. Batas akhir sesuai TAP MPR adalah pukul 07.00 Wib atau masih ada 30 menit lagi.
Hingga waktu yang ditentukan, tidak ada yang masuk. Berkas Gus Dur dan Megawati tidak masuk. Yusril dan timnya yakin hanya ada capres tunggal dan otomatis secara aklamasi akan ditetapkan.
Namun, beberapa saat sebelum sidang paripurna MPR tersebut, Yusril terus di desak mundur. Yusril sudah curiga saat itu, di pagi 20 Oktober 1999 sebelum sidang pemilihan Presiden.
Yusril didesak untuk mundur. Bahkan, sampai terpojok ke dinding. Bahkan, termasuk oleh sejumlah politisi PBB sendiri.
"Waktu itu ada Fuad Bawazir (PAN, sekarang di Hanura), AM Fatwa (PAN sekarang anggota DPD). Termasuk dalam partai saya sendiri Hartono Marjono yang ngotot kalau you tidak mundur saya akan umumkan PBB pecah. Saya Sumargono dan lain-lain yang akan tarik (dukungan ke PBB),".
Hanya beberapa menit waktu untuk berpikir. Sebab, sidang paripurna akan segera dibuka. Dia dihadapkan pada keputusan sulit apakah memilih tetap maju dan yakin menang atau PBB terpecah.
Yusril kembali memikirkan pernyataan Habibie. Dia kalkulasi dukungan itu, dia yakin menang untuk maju ke putaran kedua.
"Saya hitung memang lumayan besar. Saya dapat 232, Gus Dur 185, Mega 306. Jadi kalau babak pertama, Gus Dur pasti out. Kalau saya berdua dengan Mega (maju putaran kedua, red), terserah bagaimana,".
Hingga akhirnya, dia menafikkan hitung-hitungan itu. Walau dirinya mengaku heran karena harusnya calon tunggal sebab tidak ada berkas Megawati dan Gus Dur dalam pencalonan. Namun, Amien Rais menyebut dalam sidang MPR itu, ada tiga calon.
"Saya sudah buka di MPR. Pagi itu kan jam 9 ada 3 (capres). Saya buka file. Gus Dur sama Mega enggak ada syarat-syarat menjadi Presiden. Itu TAP MPR. Saya komplit semua dan dua (Gus Dur dan Megawati) itu tidak. Sebenarnya kalau jujur, saat itu calonnya cuma satu. Dan menurut TAP MPR waktu itu harus disahkan dan dianggap aklamasi. Nanti dibukalah file-file. Dan nanti ditanya pada Amien Rais mengapa anda bisa berdusta,".
Hingga, sebelum Amien Rais membuka sidang, Ketua Umum DPP PAN itu mempersilahkan Yusril berbicara. Saat itu juga, Yusril mengumumkan pengunduran dirinya dan menyerahkan suaranya untuk Gus Dur. [gus]
Yusril membongkar kisah di balik pengunduran dirinya. Berbeda dari pemahaman kebanyakan orang.
Yusril menegaskan, Partai Bulan Bintang (PBB) yang saat 1999 dia adalah Ketua Umum DPP, tidak tergabung dalam Poros Tengah. Yusril dan PBB tidak sepakat hingga akhir Poros Tengah itu. Bahkan, sampai wacana itu muncul lagi, Yusril dan PBB yang dipimpin MS Ka'ban, tidak tertarik dengan isu Poros Tengah jilid II.
Pada 7 Oktober 1999, Amien Rais sudah mengumumkan Poros Tengah mendukung Gus Dur. Hingga pada pidato pertanggungjawaban Presiden BJ Habibie 19 Oktober 1999, MPR menolaknya.
Pada 20 Oktober 1999, dilakukan pemilihan Presiden melalui sidang MPR. Saat itu belum pemilu langsung.
Beberapa kejadian pada dini hari 20 Oktober 1999, diceritakan oleh Yusril. Berkumpul di kediaman BJ Habibie sekitar pukul 00.30 Wib. Habibie berdebat hebat dengan Marwah Daud. Marwah tetap meminta Habibie jadi Presiden. Habibie dengan tegas tidak mau apalagi pertanggungjawabannya ditolak.
Tokoh lainnya seperti Ketua Umum DPP Golkar Akbar Tanjung tidak bersedia. Ginanjar Kartasasmita juga sama. Hamzah Haz mengaku tidak enak dengan Gus Dur. Praktis, hanya Yusril yang bersedia dan sudah melengkapi persyaratan capres seperti tertara dalam TAP MPR.
"Ketika pak Habibie ditolak pertanggungjawabannya, saya sudah siap berkas-berkasnya pencalonan Presiden. Saya lengkapi komplit semuanya. Peta politik tiba-tiba berubah drastis malam itu," kenang Yusril.
Dalam pertemuan itu, Amien Rais dipanggil. Amien baru datang jam 04.00 Wib, masih pada 20 Oktober 1999 subuh. Amien tidak bersedia menjadi Presiden karena sudah mengusung Gus Dur. Tapi dia meminta waktu bertemu Gus Dur.
Pagi harinya sekitar pukul 06.00 Wib, dari kediaman Habibie, Yusril memilih untuk ke MPR, menyerahkan berkas pencalonan. Habibie juga sudah yakin Yusril yang maju.
Dengan memeluk Yusril, Habibie menyatakan siap mendukung Yusril dan mengarahkan kekuatannya di Golkar dan Fraksi TNI serta utusan daerah, mendukung Yusril.
"Waktu itu dia (BJ Habibie) bilang kalau kau maju saya akan perintahkan TNI, perintahkan Golkar, alihkan dukungan pada saya. Tapi saudara akan mengalami problema. Saudara harus terima Wiranto sebagai wakil anda (Wapres). Itu omongannya Habibie,".
Yusril meluncur ke gedung MPR/DPR/DPD di senayan. Pukul 06.30 Wib, Yusril telah menyerahkan berkas. Dia yang pertama. Batas akhir sesuai TAP MPR adalah pukul 07.00 Wib atau masih ada 30 menit lagi.
Hingga waktu yang ditentukan, tidak ada yang masuk. Berkas Gus Dur dan Megawati tidak masuk. Yusril dan timnya yakin hanya ada capres tunggal dan otomatis secara aklamasi akan ditetapkan.
Namun, beberapa saat sebelum sidang paripurna MPR tersebut, Yusril terus di desak mundur. Yusril sudah curiga saat itu, di pagi 20 Oktober 1999 sebelum sidang pemilihan Presiden.
Yusril didesak untuk mundur. Bahkan, sampai terpojok ke dinding. Bahkan, termasuk oleh sejumlah politisi PBB sendiri.
"Waktu itu ada Fuad Bawazir (PAN, sekarang di Hanura), AM Fatwa (PAN sekarang anggota DPD). Termasuk dalam partai saya sendiri Hartono Marjono yang ngotot kalau you tidak mundur saya akan umumkan PBB pecah. Saya Sumargono dan lain-lain yang akan tarik (dukungan ke PBB),".
Hanya beberapa menit waktu untuk berpikir. Sebab, sidang paripurna akan segera dibuka. Dia dihadapkan pada keputusan sulit apakah memilih tetap maju dan yakin menang atau PBB terpecah.
Yusril kembali memikirkan pernyataan Habibie. Dia kalkulasi dukungan itu, dia yakin menang untuk maju ke putaran kedua.
"Saya hitung memang lumayan besar. Saya dapat 232, Gus Dur 185, Mega 306. Jadi kalau babak pertama, Gus Dur pasti out. Kalau saya berdua dengan Mega (maju putaran kedua, red), terserah bagaimana,".
Hingga akhirnya, dia menafikkan hitung-hitungan itu. Walau dirinya mengaku heran karena harusnya calon tunggal sebab tidak ada berkas Megawati dan Gus Dur dalam pencalonan. Namun, Amien Rais menyebut dalam sidang MPR itu, ada tiga calon.
"Saya sudah buka di MPR. Pagi itu kan jam 9 ada 3 (capres). Saya buka file. Gus Dur sama Mega enggak ada syarat-syarat menjadi Presiden. Itu TAP MPR. Saya komplit semua dan dua (Gus Dur dan Megawati) itu tidak. Sebenarnya kalau jujur, saat itu calonnya cuma satu. Dan menurut TAP MPR waktu itu harus disahkan dan dianggap aklamasi. Nanti dibukalah file-file. Dan nanti ditanya pada Amien Rais mengapa anda bisa berdusta,".
Hingga, sebelum Amien Rais membuka sidang, Ketua Umum DPP PAN itu mempersilahkan Yusril berbicara. Saat itu juga, Yusril mengumumkan pengunduran dirinya dan menyerahkan suaranya untuk Gus Dur. [gus]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar